Senin, 14 Juni 2010

Bad Obsession

Pagi itu hujan turun begitu lebat, untungnya aku sudah sampai di sekolah. Masih berdiri di tempat parkir terjebak hujan. Sementara aku tidak tahu harus apa. Sesekali membuka buku pelajaran, tapi bukan ide yang bagus. Aku melanjutkan bengong bersandar di tiang tempat parkir, memandang jauh murid-murid berdiri didepan kelas. Sudah hampir seperempat jam hujan turun dan nampaknya mulai reda. Siswa-siswi berdatangan menggunakan payung menuju kelas masing-masing. Tapi diantaranya ada yang aku kenal, Agus baru masuk dengan seseorang yang aku kenal juga. Dia adalah Noni gadis kecil yang aku kenal awal tahun pelajaran tahun ini. Aku yang sedang bengong langsung sadar. Menengok jam di dinding mushola, tujuh menit lagi pikirku. Aku yang tiba-tiba punya semangat lari menerobos hujan yang belum begitu reda. Pagi itu juga dapat aku ingat sebatas ingatanku, sidak juga begitu istimewa.
Satu jam pelajaran telah selesai dilaksanakan, pelajaran selanjutnya adalah olahraga. Lapangan yang masih basah membuat aku sedikit malas. Tapi sebagai ketua kelas aku bertanggung jawab menyiapkan kedua kelas yang mendapat jadwal, dilanjutkan pemanasan selama sepuluh menit. Selesai pemanasan Pak Guru belum juga keluar. Tidak ambil pikir aku langsung menjemputnya di ruang guru. Tapi kurang beruntung beliau sedang ada keperluan di luar sekolah. Yang kami dapat hanya tugas tanding basket kelasku melawan kelas 2D.
Waktu demi waktu berlalu memaksa aku yang mulai kepanasan istirahat di tepi lapangan tepat di depan kelas 1A. Sambil merasakan semilir angin sengaja aku memperhatikan kelas di hadapanku yang pintunya terbuka. Murid-murid tampak diam menghadap kertas di hadapan mereka masing-masing. Ulangan pikirku. Niat hati mau mengganggu, tapi tiba-tiba aku merasa maju dengan cewek yang duduk di bangku tengah yang sepertinya aku mengenalnya. Ya sudah, aku kembali istirahat dan menikmati angin. Celakanya aku terpanggil untuk kembali menengok ke dalam ruangan itu lagi dan lagi. Sampai akhirnya cewek itu Noni namanya melihat keluar di mana aku duduk dan memperhatikan dia. Aku tersenyum ketika mata dan mata bertemu dan debar jantungku mendadak lebih berat lagi. Aku yang jadi salah tingkah kembali ke lapangan hanya sekedar pindah tempat. Hm, well... Sedikit istimewa tapi itu yang terlupakan selama ini.

Hari jumat siang saatnya berpramuka ria. Aku dan Fendy yang habis jumatan langsung bersiap untuk kegiatan siang itu. Sambil menunggu adik-adik kelas kami duduk-duduk di taman depan sekolah. Satu persatu datang, dan kali berikutnya adalah orang yang aku kenal. Beliau adalah Ka' Asmungi, dulu latihan bersama saat KKN mahasiswa. Tapi kali ini beliau mengantar anaknya yang ternyata sekolah di sini. Dia adalah Riski Diahningati.
Kegiatan dimulai dengan upacara yang aku pimpin dan Ka' Samsijati menjadi pembina upacaranya. Lagi-lagi aku melihat seseorang yang aku kenal berada di dalam regu Matahari kelas 1A. Namanya Noni. Akhir-akhir ini bukan hanya mataku yang sering melihat dia, tapi ternyata hatiku tertarik tanpa seijinku. Melenceng jauh dari kegiatan, tapi itulah yang aku maksudkan dalam paragraf ini. Selesai kegiatan kami Dewan Penggalang pulang bersama. Sepintas Noni lewat dijemput ayahnya. Hanya potongan-potongan cerita yang mungkin tidak penting ditulis di buku harian.

Bad Obsession

Satu tahun telah berlalu, kini aku naik kelas tiga yang mulai diberi rambu-rambu dan awas. Kaitannya dengan akhir sekolah ini yaitu lulus atau mengulang satu tahun. Meski aku merasa bodoh tapi yang aku tahu namaku Yuliawan, siswa paling terakhir di sekolahku. Dari tujuh kelas, kelasku yang terakhir, nomor absenku juga terakhir, dan nomor induk itu yang paling terakhir. Beruntung kelasku favorit. Ketika penerimaan siswa baru aku masuk urutan ke 28 dari 281 siswa, ketika lulusan aku masuk pada urutan 27 dari 271 siswa. Aktif hampir disemua kegiatan. Tapi bukan itu semua, karena yang akan aku tulis selanjutnya adalah tentang kebodohan. Di mana dimulai dari awal tahun ajaran baru, kelas baru dan teman lama kumpul kembali.
Satu dua tahun telah aku lalui dan aku tidak merasa begitu cepat. Karena aku bersyukur begitu banyak anugerah dua tahun ini.
Menghabiskan satu tahun lagi, anugerah apa lagi yang akan aku dapatkan? Dan mengawali hari itu, yang masih hari bebas, aku memanfaatkan ke perpustakaan. Tapi kali ini aku berjalan sendiri. Ramai juga siang itu, banyak siswa baru. Semoga banyak pula kebehagiaan yang baru, pikirku. Dan tiba-tiba aku teringat akan kebahagiaan lamaku. Aku melihat Noni yang sedang ngobrol dengan Agus. Dan pikiranku yang masih bersih awal tahun itu, seketika berisi nama seorang gadis kecil Wahyu Kusuma Wardani.
Pada kesempatan lain aku gunakan untuk menemui Agus. Dia sebagai temanku dan dia sebagai orang yang dekat dengan Noni. Aku bertanya banyak tentang Noni. Sepertinya aku tertarik dan ingin tahu lebih banyak tentang Noni. Sebelum akhirnya mungkin aku jatuh cinta.
 Huft!! Sepertinya itu keinginan yang jelek! Tapi ini awal tahun mungkin itu sebuah anugerah. Dan sekarang aku kelas tiga, mungkin ini awal yang buruk pula. Tapi aku yakin pada diriku bahwa aku pastikan melangkah di garis itu. Aku perlu mendekati dia. Yang pertama aku lakukan adalah hal baik di sela ketidaksengajaan. Aku yang mau meminjam foto-foto temen Pramuka ke Syifa tidak sengaja bilang, "Sekalian mintain fotonya Noni ya...?". Syifa, dia teman dekat Noni yang juga memperkenelkennya pada kami anak Pramuka satu tahun yang lalu. Aku kira yang aku ucapkan ke Syifa itu bercanda, tapi tak apa sudah terlanjur dikatakan. Karena hari itu memang sudah aku putuskan bahwa aku benar-benar jatuh cinta. Dan aku tidak perduli rasa suka yang hanya sekedar suka itu berubah menjadi cinta.

 

Senin, 03 Mei 2010

Closet Cronicles

Nyanyian suci dalam hatiku yang memberontak untuk keluar mengungkapkan apa yang telah terjadi sesungguhnya. Sejak aku mengenal dia sampai terpaksa aku melambaikan tangan kepada dia yang meninggalkan kesalahan diantara kami.

Banyak kesalahpahaman, banyak kebodohan, dan sayang itu tidak berguna bahkan tidak perlu dipermasalahkan. Karena memang tidak banyak sesuatu sebelum terjadi kisah ini. Tapi apa perlunya aku menulis? Ini hanya hobiku yang memang bukan hobiku. Aku merasa bersyukur karena ini merupakan luapan emosi positifku. Aku tidak menyangka sekali telah menulis semua ini, tidak lain karena aku tidak mampu mengungkapkan ini dengan kata-kata selain dengan tulisan. Maka dengan ini aku akan mencoba kembali untuk mengulang apa yang telah aku jalani beberapa tahun yang lalu. Kepada semua Sela Kusumaku, terimakasih untuk maafmu untuk kemudian juga aku memaafkan.

Told you once about your friends and people, they were always seeking but they'll never find, that it's alright. It's alright.


Satu tahun telah aku lalui sebagai siswa sekolah menengah, kini kami tengah mengawali tahun ajaran baru. Satu tingkat lebih senior kami sudah memiliki adik kelas. Tidak banyak yang dapat aku banggakan selain syukur saja bisa aktif di OSIS dan Pramuka.

Pagi itu adalah tahun ajaran baru. Belum efektif untuk pelajaran, banyak yang memanfaatkan untuk olahraga, kumpul-kumpul, sementara aku dan teman-teman Pramuka memilih ke perpustakaan. Bukan mau membaca tapi sekedar kumpul saja. Bersama teman-temanku yang aku banggakan, mereka anak-anak berprestasi. Seperti Fendyanto teman sekelasku dia adalah siswa teladan. Dia juga biasa ranking satu, tapi aku tidak kalah dengan dia. Terus Deny Kurniawan, dia ranking pertama paralel atau bisa dibilang paling cerdas di sekolah kami. Tidak ada ranking ketiga baginya. Slamet Jonianto, tinggi tampan dia bakat masalah cinta. Penguasaan teknologinya juga bagus. Dan Adji Priyanto, matanya sipit kalau tertawa menyenangkan. Serta yang paling cantik itu Syifa Khoirunisa, karena dia memang satu-satunya cewe diantara kami. Tapi kali itu dia bersama temannya, adik kelas kami siswi baru yang lugu, manis, cantik. Namanya Wahyu Kusuma Wardani atau nama panggilannya Noni, Syifa memperkenalkannya pada kami. Aku merasa tertarik padanya, tetapi biasa saja sepertinya. Diantara kami Fendy yang ingin lebih kenal sama Noni. Kami mendukung Fendy untuk pendekatan, tapi itu hanya gurauan kami saja sebagai kumpulan anak-anak yang tengah bahagia. Hari itu baru aku anggap istimewa ketika aku menulis buku ini.

How could she look so good? How could she be so fine? How could she be so cold? How could it be she might be mine? Yeah!


Pagi itu hujan turun begitu lebat, untungnya aku sudah sampai di sekolahan, masih berdiri di tempat parkir terjebak hujan. Lingkungan sekolah semakin basah sementara aku tidak tahu mau ngapa. Sesekali membuka buku pelajaran, tapi itu bukan ide yang cocok. Aku melanjutkan bengong bersandar di tiang parkiran, memandang jauh siswa-siswi berdiri di depan kelas masing-masing. Sudah hampir seperempat jam hujan turun dan nampaknya sedikit mereda. Satu persatu murid-murid muncul menggunakan payung menuju kelas masing-masing. Tapi diantaranya ada yang aku kenal, Agus yang baru masuk dengan seseorang yang sepertinya juga aku kenal. Dia adalah Noni gadis kecil yang telah aku kenal awal tahun pelajaran ini. Aku yang sedang bengong langsung sadar, menengok jam di dinding Masjid di sebelah parkiran, tujuh menit lagi pikirku. Aku yang tiba-tiba jadi punya semangat lari menerobos hujan yang belum juga reda.
Pagi itu juga dapat aku ingat sebatas ingatanku, tidak juga begitu istimewa.