Rabu, 11 Agustus 2010

Yang Tidak Sampai

To: W_ _ _ _ K_ _ _ _ _ W_ _ _ _ _ _

Bagaimana kabarmu saat ini, Yu? Semoga tidak seperti aku yang sedang merindukan maaf dari seseorang. Nilai rapor kamu bagus-bagus, kan? Yu, apa kamu ada rasa malas untuk membaca surat ini? Maaf, mungkin aku terlalu sering memberimu surat. Sebenarnya aku ingin bicara langsung, tapi aku takut kamu tambah membenci aku. Apa kamu tau, aku selalu merasa dibenci oleh seseorang yang aku sayangi. Sepertinya dia tidak akan memaafkan aku. Sekarang dia temanku, tapi aku merasa bahwa aku musuhnya. Di dunia ini begitu banyak kebencian, tapi di hati ini masih ada suatu keinginan. Walau teman dan kekasih telah pergi jauh tak kembali meninggalkan kita, namun kisah cinta akan selalu tetap ada untuk selamanya. Dia telah memberiku banyak cerita.

Tidak terasa kita telah melewati satu semester tahun ini. Bagaimana kamu menghabiskan masa-masa itu? Kalau aku mungkin banyak hari-hari yang aku lalui dengan kesia-siaan, penuh diam, runtuh semangat, dan yang pasti ada aku selalu dikejar-kejar rasa bersalah. Aku memang selalu suka dia, tapi entah mengapa aku menghianati ungkapan itu. Kita sebagai seorang pelajar yang sering mendapat masalah cinta memang tidak harus menghindarinya. Walau kekosongan dan rasa bersalah yang menyinggahi hatiku, tapi aku juga berpikir bagaimana dengan dia. Aku yakin ini semua telah menjadi gangguan baginya. Setiap waktu kita mengisi kepolosan hati kita dengan cinta, dengan kasih sayang, dengan kebencian. Tanpa terasa itu adalah sebuah cerita cinta.

Bagaimana perjalanan cintamu saat ini, Yu? Kalau aku dulu aku suka dia. Dia mengenalkan aku pada cinta. Demi rasa itu aku berusaha membuat dia senang. Di dalam hatiku tidak ada niat sedikitpun untuk melukainya. Ketika dia memperkenalkan cintanya padaku, sifat egois singgah di hatiku. Ternyata aku tidak memikirkan belajar dan aku telah membiarkan dia. Mulai saat ini mungkin dia berubah total menjadi marah padaku, benci padaku, dan aku telah menyadari bahwa aku telah menyakiti hatinya. Tapi apa kamu tau, Yu? Setelah aku membiarkan dia, malah tidak ada semangat dan konsentrasi belajar. Aku selalu berusaha agar dia tidak membenci aku, tapi dengan usaha itu dia menjadi semakin membenci aku. Tidakkah ada harapan, Yu?

Yu, tolong sampaikan maafku pada dia, karena kamu adalah orang yang dekat dengan dia. Katakan bahwa aku meminta maaf setulus ikhlasnya, hingga aku bisa kembali kejalan belajar. Katakan jika dia tidak ingin terus melihat aku maka terimalah maaf dari aku. Karena tanpa maafnya aku tidak bisa kembali. Bahkan mungkin akan mengulang satu tahun lagi bersama dia. Sampaikan maafku, aku telah menyakiti hatinya. Mungkin dia merasa terus dikejar-kejar oleh aku. Mungkin dia mengira aku terus menunggu dia. Mungkin aku sering memberi salam sesuatu. Mungkin aku mengganggu belajarnya. Dan maaf ini aku sampaikan setelah aku membaca bukuku yang bercerita tentang aku yang telah mempermalukan kamu di depan teman-teman dan gurumu jum'at kemarin sewaktu pelajaran Bahasa Inggris. Dan maaf juga untuk semua.
Mungkin dia seseorang yang tidak pernah salah padaku. Apa kamu pernah merasa bersalah padaku, Yu? Dalam enggan dan janji aku mengingatkanmu. W**** K***** W****** kamu adalah dia. Aku meminta maaf padamu karena aku ingin kamu meminta maaf padaku. Dengan itu akankah ada maaf dari kamu?

Sekali lagi aku tidak ingin membuat kamu marah dan bertambah benci padaku. Jadi baru sekarang aku bisa mengucapkan, "Happy Birthday to You on 24th January; many happy return on your birthday"
Semoga kamu mau memahami apa yang ada padaku sekarang. Terimakasih.

Sela Kusuma
_,'o0O"--
Yuliawan

Senin, 14 Juni 2010

Bad Obsession

Pagi itu hujan turun begitu lebat, untungnya aku sudah sampai di sekolah. Masih berdiri di tempat parkir terjebak hujan. Sementara aku tidak tahu harus apa. Sesekali membuka buku pelajaran, tapi bukan ide yang bagus. Aku melanjutkan bengong bersandar di tiang tempat parkir, memandang jauh murid-murid berdiri didepan kelas. Sudah hampir seperempat jam hujan turun dan nampaknya mulai reda. Siswa-siswi berdatangan menggunakan payung menuju kelas masing-masing. Tapi diantaranya ada yang aku kenal, Agus baru masuk dengan seseorang yang aku kenal juga. Dia adalah Noni gadis kecil yang aku kenal awal tahun pelajaran tahun ini. Aku yang sedang bengong langsung sadar. Menengok jam di dinding mushola, tujuh menit lagi pikirku. Aku yang tiba-tiba punya semangat lari menerobos hujan yang belum begitu reda. Pagi itu juga dapat aku ingat sebatas ingatanku, sidak juga begitu istimewa.
Satu jam pelajaran telah selesai dilaksanakan, pelajaran selanjutnya adalah olahraga. Lapangan yang masih basah membuat aku sedikit malas. Tapi sebagai ketua kelas aku bertanggung jawab menyiapkan kedua kelas yang mendapat jadwal, dilanjutkan pemanasan selama sepuluh menit. Selesai pemanasan Pak Guru belum juga keluar. Tidak ambil pikir aku langsung menjemputnya di ruang guru. Tapi kurang beruntung beliau sedang ada keperluan di luar sekolah. Yang kami dapat hanya tugas tanding basket kelasku melawan kelas 2D.
Waktu demi waktu berlalu memaksa aku yang mulai kepanasan istirahat di tepi lapangan tepat di depan kelas 1A. Sambil merasakan semilir angin sengaja aku memperhatikan kelas di hadapanku yang pintunya terbuka. Murid-murid tampak diam menghadap kertas di hadapan mereka masing-masing. Ulangan pikirku. Niat hati mau mengganggu, tapi tiba-tiba aku merasa maju dengan cewek yang duduk di bangku tengah yang sepertinya aku mengenalnya. Ya sudah, aku kembali istirahat dan menikmati angin. Celakanya aku terpanggil untuk kembali menengok ke dalam ruangan itu lagi dan lagi. Sampai akhirnya cewek itu Noni namanya melihat keluar di mana aku duduk dan memperhatikan dia. Aku tersenyum ketika mata dan mata bertemu dan debar jantungku mendadak lebih berat lagi. Aku yang jadi salah tingkah kembali ke lapangan hanya sekedar pindah tempat. Hm, well... Sedikit istimewa tapi itu yang terlupakan selama ini.

Hari jumat siang saatnya berpramuka ria. Aku dan Fendy yang habis jumatan langsung bersiap untuk kegiatan siang itu. Sambil menunggu adik-adik kelas kami duduk-duduk di taman depan sekolah. Satu persatu datang, dan kali berikutnya adalah orang yang aku kenal. Beliau adalah Ka' Asmungi, dulu latihan bersama saat KKN mahasiswa. Tapi kali ini beliau mengantar anaknya yang ternyata sekolah di sini. Dia adalah Riski Diahningati.
Kegiatan dimulai dengan upacara yang aku pimpin dan Ka' Samsijati menjadi pembina upacaranya. Lagi-lagi aku melihat seseorang yang aku kenal berada di dalam regu Matahari kelas 1A. Namanya Noni. Akhir-akhir ini bukan hanya mataku yang sering melihat dia, tapi ternyata hatiku tertarik tanpa seijinku. Melenceng jauh dari kegiatan, tapi itulah yang aku maksudkan dalam paragraf ini. Selesai kegiatan kami Dewan Penggalang pulang bersama. Sepintas Noni lewat dijemput ayahnya. Hanya potongan-potongan cerita yang mungkin tidak penting ditulis di buku harian.

Bad Obsession

Satu tahun telah berlalu, kini aku naik kelas tiga yang mulai diberi rambu-rambu dan awas. Kaitannya dengan akhir sekolah ini yaitu lulus atau mengulang satu tahun. Meski aku merasa bodoh tapi yang aku tahu namaku Yuliawan, siswa paling terakhir di sekolahku. Dari tujuh kelas, kelasku yang terakhir, nomor absenku juga terakhir, dan nomor induk itu yang paling terakhir. Beruntung kelasku favorit. Ketika penerimaan siswa baru aku masuk urutan ke 28 dari 281 siswa, ketika lulusan aku masuk pada urutan 27 dari 271 siswa. Aktif hampir disemua kegiatan. Tapi bukan itu semua, karena yang akan aku tulis selanjutnya adalah tentang kebodohan. Di mana dimulai dari awal tahun ajaran baru, kelas baru dan teman lama kumpul kembali.
Satu dua tahun telah aku lalui dan aku tidak merasa begitu cepat. Karena aku bersyukur begitu banyak anugerah dua tahun ini.
Menghabiskan satu tahun lagi, anugerah apa lagi yang akan aku dapatkan? Dan mengawali hari itu, yang masih hari bebas, aku memanfaatkan ke perpustakaan. Tapi kali ini aku berjalan sendiri. Ramai juga siang itu, banyak siswa baru. Semoga banyak pula kebehagiaan yang baru, pikirku. Dan tiba-tiba aku teringat akan kebahagiaan lamaku. Aku melihat Noni yang sedang ngobrol dengan Agus. Dan pikiranku yang masih bersih awal tahun itu, seketika berisi nama seorang gadis kecil Wahyu Kusuma Wardani.
Pada kesempatan lain aku gunakan untuk menemui Agus. Dia sebagai temanku dan dia sebagai orang yang dekat dengan Noni. Aku bertanya banyak tentang Noni. Sepertinya aku tertarik dan ingin tahu lebih banyak tentang Noni. Sebelum akhirnya mungkin aku jatuh cinta.
 Huft!! Sepertinya itu keinginan yang jelek! Tapi ini awal tahun mungkin itu sebuah anugerah. Dan sekarang aku kelas tiga, mungkin ini awal yang buruk pula. Tapi aku yakin pada diriku bahwa aku pastikan melangkah di garis itu. Aku perlu mendekati dia. Yang pertama aku lakukan adalah hal baik di sela ketidaksengajaan. Aku yang mau meminjam foto-foto temen Pramuka ke Syifa tidak sengaja bilang, "Sekalian mintain fotonya Noni ya...?". Syifa, dia teman dekat Noni yang juga memperkenelkennya pada kami anak Pramuka satu tahun yang lalu. Aku kira yang aku ucapkan ke Syifa itu bercanda, tapi tak apa sudah terlanjur dikatakan. Karena hari itu memang sudah aku putuskan bahwa aku benar-benar jatuh cinta. Dan aku tidak perduli rasa suka yang hanya sekedar suka itu berubah menjadi cinta.